Kamis, 07 April 2011

Dialog Sains dan Keimanan


Suatu waktu, sains berkata kepada keimanan:
“Mataku dapat melihat segala sesuatu yang ada di dunia ini.
Seluruh dunia berada dalam jangkauanku.
Aku hanya terkait dengan benda-benda materi.
Pernahkah kulakukan hal spiritual?
Aku dapat menabuh seribu melodi.
Dan secara terbuka nyatakan segala rahasia yang telah kupelajari.”

Keimanan berkata:
“Dengan sihirmu, gelombang di laut berkobar
Kau cemari atmosfir dengan kotoran dan gas beracun.
Ketika kau bersatu denganku, kau adalah cahaya.
Ketika kau jauh dariku, cahayamu menjadi api.
Kau berasal dari Illahi.
Tapi kau telah terjerat dalam perangkap setan.
Kemarilah, jadikan tanah gurun ini jadi taman lagi.
Berikan sebuah kehidupan baru pada dunia yang merana ini.
Pinjamlah dariku secercah kegembiraanku.
Dan bangunlah Firdaus di dunia ini.
Sejak hari penciptaan, kita bersatu
Kita adalah nada rendah dan tinggi dari satu melodi.”


(Sumb: Allah pun Tersenyum: Kisah-kisah Unik, Aforisma, Alegori Muhammad Iqbal)

Selasa, 05 April 2011

Untukmu gadis...

Jika harus menghitung.
Maka, sungguh aku lelah dengan semua beban ini...

Jika berlari adalah lebih baik, maka aku akan lari sekencangnya. Meninggalkan kau, bersama masalah itu.

Namun, membiarkan kau rumit sendiri. Melebur bersama kelemahan yang kau miliki.
Membuatku gamang.
Takut jika terjadi apa-apa.

Sejak telapakmu menyentuh lantai dingin ini,
sejak atap wisma telah melindungimu dari panas siang dan dingin malam.
Dirimu telah menjadi tanggung jawabku.

Tapi kenapa terasa begitu sulit, memberimu rasa?

Beberapa berita telah dilaporkan padaku.
Itu semua tentangmu...
Gadis...
Dirimu cukup membuat otakku berputar.
Mengira-ngira perlakuan apa yang harus kuberikan.
Agar kau nyaman dan akupun tenang.

Aku coba terus bersabar.
Berharap kau berubah.
Dan amanahku-pun menjadi terarah.
Tanpa patah, ataupun serpihan noktah.

Semoga Allah memberimu jalan. Adikku

Jumat, 01 April 2011

Paradoks

Ini entah yang keberapa kali iftitah...

Tak kumengerti apa maumu?
Bukankah genggaman pada dunia ada di benda itu?
Tapi kenapa kau memilih ini?
Aku benar tak paham.
Apa maumu?

Paradoks-mu sungguh lucu sekali
Amat mengesalkan,
percuma,
dan membuang waktu

Kau tersenyum?

Lebih banyak lagi
Paradoks-ku sama sekali tak bisa kumengerti.
But... For me, all is well.

Terserah apa katamu

3 bulan lalu aku telah bersikeras untuk itu
namun sepersekian detik telah mengubahny.

Dan aku tenang akannya...

Meski hanya "paradoks"