Anggapan mereka awal akan membuat cerah
apalagi mendengar iftitah...
Hati merekah...
Ahh...
Tidaklah...
mereka mungkin salah...
karena mengira permulaan adalah iftitah
padahal telah terlahir setelah tengah
awalun??
Hoho...
Bukanlah...
Tapi yang jelas, senyum iftitah...
Sumringah...
Berbahagialah...
Just iftitah...
_____
narsiiiiisss
tertawa...
Di akhir perkuliahan si Bapak cerita di kelas dan bilang, "iftitah... saya minta izin ambil namamu buat cucu saya 'iftitah hayati'. Saya senang dengan namamu"
"senyum" (iftitah terbang ke langit kelas, persis seperti usaha partikel air memisah dari teman-teman sesamanya. Kali ini ia harus menguap)
... Sekelas pada riuhh ...
"Titut... Tituut..."
___
Rabu, 23 Maret 2011
Senin, 21 Maret 2011
Aku
Aku hanya mampu diam
Tak bergeming
Tanpa suara, meski sepatah kata.
Bagiku... prinsipku benar.
Baginya... prinsipnya lebih benar,
Aku satu, mereka seribu
Aku tak memiliki kekuatan untuk
menghimpun huruf itu menjadi
kalimat, hanya akan mempersulit.
Karena semua akan limbung,
Terpaut pada siratan kata masing-masing
Rasulullah telah
mengisyaratkanku untuk surut.
Dan aku,
hanya aku yang tahu.
Semoga aku tak salah, merekapun begitu.
Tak bergeming
Tanpa suara, meski sepatah kata.
Bagiku... prinsipku benar.
Baginya... prinsipnya lebih benar,
Aku satu, mereka seribu
Aku tak memiliki kekuatan untuk
menghimpun huruf itu menjadi
kalimat, hanya akan mempersulit.
Karena semua akan limbung,
Terpaut pada siratan kata masing-masing
Rasulullah telah
mengisyaratkanku untuk surut.
Dan aku,
hanya aku yang tahu.
Semoga aku tak salah, merekapun begitu.
Seperti tak satupun
Seperti tak satupun dapat kulakukan...
Ketika hujan
Ketika perjalanan akan pulang
Sedikitpun tak mengerti dimana bahteranya
Lenterapun padam.
Dan satu halaman
cukup untuk membuat...
hujan itu diam
riak-riak tenang
kegalauan bungkam
Seperti tak satupun dapat kumengerti
Ketika hujan
Ketika perjalanan akan pulang
Sedikitpun tak mengerti dimana bahteranya
Lenterapun padam.
Dan satu halaman
cukup untuk membuat...
hujan itu diam
riak-riak tenang
kegalauan bungkam
Seperti tak satupun dapat kumengerti
Sebelum Cahaya
Diluar, cahaya siang tadi benar-benar pergi.
Menenggelamkan diri dengan hati-hati.
Melesat halus menyapu belahan
lain dengan secercah sinarnya.
Sekarang ia telah punya dunia baru
dengan malu-malu mengintip. lewat sela dedaunan.
Meluncur bebas dengan rambatan
bias sempurna, merata kesegala
arah.
Kuakui tak ada kesombongan sedikitpun pada dirinya, meskipun keagungan lebih berpihak padanya.
Bahkan dikala detik-detik ia hendak pergi,
Kau tahu apa katanya pada bulan?
"sekarang giliranmu wahai bulan,
bersinarlah..., kau akan tampak
lebih indah"
***
demi matahari dan sinarnya di
pagi hari
demi bulan apabila mengiringi
demi siang apabila
menampakkannya
demi malam apabila menutupinya
demi langit serta pembinaannya
demi bumi serta
penghamparannya
demi jiwa serta penyempurnaan
(ciptaan)Nya
(As-syam 1-8)
***
ketika cahaya mulai menutup tabir.
Ketika buku FoRSia untuk semester ini ditutup. Ketika kepengurusan baru telah terbentuk. (semoga 'cahaya' itu
tak pernah pudar, senantiasa
memberikan sinar, agar bulan tak
ragu-ragu untuk memantulkannya
pada penjuru bumi)
_luv foRSia_
Dan aku baru saja akan memulai perjuangan, merampungkan LPJ secepatnya...
Bantu aku ya rabb...
Hamasah
_menulis apapun yang mau ditulis_ "nasehat ini jitu juga rupanya"
apapun hasilnya, yang penting tulis.^_^
Gara-gara kebanyakan ambil mata kuliah spektra, yg inget cuma cahaya.
Menenggelamkan diri dengan hati-hati.
Melesat halus menyapu belahan
lain dengan secercah sinarnya.
Sekarang ia telah punya dunia baru
dengan malu-malu mengintip. lewat sela dedaunan.
Meluncur bebas dengan rambatan
bias sempurna, merata kesegala
arah.
Kuakui tak ada kesombongan sedikitpun pada dirinya, meskipun keagungan lebih berpihak padanya.
Bahkan dikala detik-detik ia hendak pergi,
Kau tahu apa katanya pada bulan?
"sekarang giliranmu wahai bulan,
bersinarlah..., kau akan tampak
lebih indah"
***
demi matahari dan sinarnya di
pagi hari
demi bulan apabila mengiringi
demi siang apabila
menampakkannya
demi malam apabila menutupinya
demi langit serta pembinaannya
demi bumi serta
penghamparannya
demi jiwa serta penyempurnaan
(ciptaan)Nya
(As-syam 1-8)
***
ketika cahaya mulai menutup tabir.
Ketika buku FoRSia untuk semester ini ditutup. Ketika kepengurusan baru telah terbentuk. (semoga 'cahaya' itu
tak pernah pudar, senantiasa
memberikan sinar, agar bulan tak
ragu-ragu untuk memantulkannya
pada penjuru bumi)
_luv foRSia_
Dan aku baru saja akan memulai perjuangan, merampungkan LPJ secepatnya...
Bantu aku ya rabb...
Hamasah
_menulis apapun yang mau ditulis_ "nasehat ini jitu juga rupanya"
apapun hasilnya, yang penting tulis.^_^
Gara-gara kebanyakan ambil mata kuliah spektra, yg inget cuma cahaya.
Mendung
Bukittinggi...
Mendung...
Seperti hatiku
mendung...
Tak ada hujan
tak pula sengatan panas
hanya
mendung...
Sesekali...
Ada beberapa pengamen muda
berbadan sehat
bergaya punk
mampir
katanya menghibur
namun tetap saja...
Bagiku
teriakan itu cuma
meninggalkan...
Mendung...
Dan
Sesekali...
ada pula
bapak-bapak tua
berbadan ringkih
gelap
pucat
mengilat
menghampiri...
tak nampak biji hitam
dimatanya...
Tentu
kelopaknya mengatup...
Rapat...
Hanya tangan yang mengulur
aku tahu pak,
tak satupun larik cahaya yang
mampu kau lihat
hanya membedakan
dan pada bagian itu
Dunia terputus darimu
hanya "pada bagian itu"
namun,
ketika uluran tanganmu
menyandung jok didepanku.
Kusadari
ada mata di telapakmu,
ada mata di setiap sel-sel kulit yang membalut organ gerakmu
Jauh...
lebih tajam
Dari sana engkau mampu menatap hangat dunia
meski kali ini
mendung...
Ada hal yang ingin kukatakan
Tentang mendungmu
yang tak terlihat
andai saja kau tahu,
bahwa...
tak seorangpun manusia
duduk dibelakangku
percuma engkau mengulur tanganmu
tapi, aku maklum...
Karena ada atau tidak
bagimu sama...
GELAP
Tentang mendungku...
Berbahagialah
duhai bapak...
Bahwa hari ini kau telah
bersedekah banyak untukku
tak terbilang...
Dan tak seharusnya
kuperlihatkan mendungku
padamu....
Meski, lagi lagi bagimu adalah
sama mendung ataupun cerah.
***
Mendung...
Seperti hatiku
mendung...
Tak ada hujan
tak pula sengatan panas
hanya
mendung...
Sesekali...
Ada beberapa pengamen muda
berbadan sehat
bergaya punk
mampir
katanya menghibur
namun tetap saja...
Bagiku
teriakan itu cuma
meninggalkan...
Mendung...
Dan
Sesekali...
ada pula
bapak-bapak tua
berbadan ringkih
gelap
pucat
mengilat
menghampiri...
tak nampak biji hitam
dimatanya...
Tentu
kelopaknya mengatup...
Rapat...
Hanya tangan yang mengulur
aku tahu pak,
tak satupun larik cahaya yang
mampu kau lihat
hanya membedakan
dan pada bagian itu
Dunia terputus darimu
hanya "pada bagian itu"
namun,
ketika uluran tanganmu
menyandung jok didepanku.
Kusadari
ada mata di telapakmu,
ada mata di setiap sel-sel kulit yang membalut organ gerakmu
Jauh...
lebih tajam
Dari sana engkau mampu menatap hangat dunia
meski kali ini
mendung...
Ada hal yang ingin kukatakan
Tentang mendungmu
yang tak terlihat
andai saja kau tahu,
bahwa...
tak seorangpun manusia
duduk dibelakangku
percuma engkau mengulur tanganmu
tapi, aku maklum...
Karena ada atau tidak
bagimu sama...
GELAP
Tentang mendungku...
Berbahagialah
duhai bapak...
Bahwa hari ini kau telah
bersedekah banyak untukku
tak terbilang...
Dan tak seharusnya
kuperlihatkan mendungku
padamu....
Meski, lagi lagi bagimu adalah
sama mendung ataupun cerah.
***
tranex mandiri bkt-pdg
saat cahaya
kemerahan mulai
menyeruak
18.4o wib
makasih pak...
Darimu aku belajar
memaknai
kesyukuran
Semoga Allah melimpahkan rezki
buatmu...
saat cahaya
kemerahan mulai
menyeruak
18.4o wib
makasih pak...
Darimu aku belajar
memaknai
kesyukuran
Semoga Allah melimpahkan rezki
buatmu...
Makasih Allah
tenang...
kemudian berwudhuklah
beri waktu jasadmu
berehat...
sejenak...
...
agar kejenuhanmu sirna
mengalir bersama air yang membasuhmu
agar kesegaran merasukimu
agar malaikat-pun tenang....
dan siap...
menghadiahkanmu
ruh baru...
dari surga...
setelah itu...
rasakanlah
bahwa...
Allah mencintaimu...
sangat....
kemudian berwudhuklah
beri waktu jasadmu
berehat...
sejenak...
...
agar kejenuhanmu sirna
mengalir bersama air yang membasuhmu
agar kesegaran merasukimu
agar malaikat-pun tenang....
dan siap...
menghadiahkanmu
ruh baru...
dari surga...
setelah itu...
rasakanlah
bahwa...
Allah mencintaimu...
sangat....
Langganan:
Postingan (Atom)
