Senin, 21 Maret 2011

Mendung

Bukittinggi...
Mendung...

Seperti hatiku
mendung...

Tak ada hujan
tak pula sengatan panas

hanya

mendung...

Sesekali...

Ada beberapa pengamen muda
berbadan sehat
bergaya punk
mampir

katanya menghibur
namun tetap saja...

Bagiku

teriakan itu cuma
meninggalkan...
Mendung...

Dan

Sesekali...
ada pula
bapak-bapak tua
berbadan ringkih
gelap
pucat
mengilat
menghampiri...

tak nampak biji hitam
dimatanya...

Tentu

kelopaknya mengatup...
Rapat...
Hanya tangan yang mengulur

aku tahu pak,
tak satupun larik cahaya yang
mampu kau lihat

hanya membedakan

dan pada bagian itu
Dunia terputus darimu

hanya "pada bagian itu"

namun,

ketika uluran tanganmu
menyandung jok didepanku.

Kusadari

ada mata di telapakmu,

ada mata di setiap sel-sel kulit yang membalut organ gerakmu

Jauh...
lebih tajam

Dari sana engkau mampu menatap hangat dunia

meski kali ini
mendung...

Ada hal yang ingin kukatakan

Tentang mendungmu
yang tak terlihat

andai saja kau tahu,
bahwa...

tak seorangpun manusia
duduk dibelakangku

percuma engkau mengulur tanganmu

tapi, aku maklum...
Karena ada atau tidak
bagimu sama...
GELAP

Tentang mendungku...

Berbahagialah
duhai bapak...

Bahwa hari ini kau telah

bersedekah banyak untukku

tak terbilang...

Dan tak seharusnya
kuperlihatkan mendungku
padamu....

Meski, lagi lagi bagimu adalah
sama mendung ataupun cerah.
***
tranex mandiri bkt-pdg

saat cahaya
kemerahan mulai
menyeruak

18.4o wib

makasih pak...

Darimu aku belajar
memaknai
kesyukuran

Semoga Allah melimpahkan rezki
buatmu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar